Skip to main content

Tehnik Mengajar Yang Jarang Guru Ketahui, SOFTEN ?

Guru yang memahami Teknik SOFTEN adalah guru idola para siswa.
Mengajar itu bukanlah suatu perkara yang mudah, tetapi juga bukan suatu perkara yang susah. Mengajar itu gampang dan sangat menyenangkan bagi guru yang banyak memahami teknik dan seni mengajar itu sendiri.

Teknik Soften dalam Mengajar

Salah satu teknik yang sering terlupakan oleh beberapa guru adalah Teknik SOFTEN (Smile, Open Gesture, Forward lean, Touch, Eye contact, Nod).

Teknik soften ini biasanya digunakan oleh orang-orang yang bergelut di dunia bisnis, khususnya dalam melakukan negosiasi. Menurut para psikologi seseorang berbicara menggunakan teknik ini dapat membuat lawan bicara akan merasa nyaman dan merasa dihargai.

Bagaimana bisa di adopsi dalam mengajar?
Ya... guru-guru yang mengajar di perkotaan terutama di sekolah yang mengutamakan pada pelayanan demi kepuasan siswa dan orangtua biasanya dianjurkan mengadopsi teknik soften dalam mengajarnya.

Mari kita bahas teknik ini satu per satu:

1. Smile (Senyum)
Guru dianjurkan mengajar sambil tersenyum. Kebiasaan senyum ini masih banyak dianggap susah Tapi ya sih memang susah, hehehe. Memang susah membiasakan tersenyum bagi guru yang belum terbiasa. Senyumlah, latihkan diri untuk senyum selama tiga detik. Ingat ya! Senyum selain dapat memberikan kenyamanan siswa juga sebagai nilai ibadah bagi kita

2. Open Gesture (Terbuka)
Open Gesture ini kadang diartikan sebagai terbuka pada materi yang dibicarakan. Kita menerima kritikan dan masukan dari seorang siswa untuk memperbaiki diri kita dalam proses pembelajaran. Ada juga yang menyatakan open gesture yang dimaksud adalah kita berbicara/mengajar dengan tangan terbuka, berekspresi, dan tidak kaku seperti melipatkan tangan di depan dada.

3.  Forward lean (membungkuk ke arah depan)
Jika ada siswa yang sedang bertanya, dekatkan dan bungkukkan badan kita ke arahnya. Ini sebagai tanda bahwa kita siapp dan mendengar apa yang mereka tanyakan.

4. Touch (Sentuh)
Berikan sentuhan kepada siswa Anda, seperti "usapkan kepala atau bahunya" sambil bilang: "Wah... pintar kamu".

Biasanya anak yang kinestetik suka saat disentuh.

Tapi ingat!!!
Anda harus tahu umur dan tempat yang disentuh. Jangan sampai menyetuh bagian-bagian pribadi siswa. Tahu kan yang saya maksud???

5. Eye contact (Tatap Mata)
Pandanglah siswa kita dengan rasa sayang. Lihat matanya baca apa yang ada di dalam hatinya. Memandang yang baik adalah selama 3 detik. Setelah 3 detik palingkan tatapan Anda ke siswa lain atau objek lain seperti papan tulis atau gambar yang sedang Anda jelaskan.

6. Nod (mengangguk)
Jika siswa Anda sedang berbicara/menjelaskan/mengungkapkan pendapatnya. Anda dengarkan, dan anggukan kepala Anda sebagai tanda Anda mendengarkan dan mengerti apa yang dia utarakan. Siswa akan merasa dihargai jika kita memberikan anggukan saat dia mengutarakan pendapatnya.

Itulah teknik soften secara sederhana.

Semoga tulisan singkat ini bisa memberikan manfaat bagi Anda yang membacanya. Jangan Lupa Di Share ke teman ya...

Comments

Popular posts from this blog

Masih Bingung Mengatasi Kebiasaan Siswa Menyontek ? Berikut Solusinya

Ilustrasi Menyontek ( Sumber : ahzaa.net ) Bapak/Ibu guru pasti pernah menemukan siswa yang menyontek ketika ujian ? Baik itu melirik jawaban teman maupun menyimpan bahan materi ke dalam saku, kaos kaki bahkan mencatat di meja. Nah, kebiasaan ini sesungguhnya sangat berdampak buruk bagi siswa itu sendiri. Oleh karena itu, kita sebagai pendidik harus lebih intensif menginformasikan tentang dampak buruk menyontek bagi siswa di masa depannya. Untuk mengatasi kebiasaan menyontek ini berikut langkah yang harus guru lakukan. Baca Juga Membentak Anak Membunuh Milyaran Sel Otaknya 1. Menginformasikan dampak buruk kebiasaan menyontek Dampak buruk terhadap kebiasaan menyontek ( Sumber : erabaru.net ) Hal yang harus kita lakukan adalah memberikan pemahaman dan juga nasehat terhadap siswa tentang dampak buruk kebiasaan menyontek. Secara tidak langsung, kebiasaan ini membuat alam bawah sadar siswa untuk lebih percaya orang lain ketimbang percaya kepada diri sendiri. Bukan hanya ...

Ajarkan Mandiri, Karena SUATU SAAT KITA AKAN MENINGGALKAN MEREKA. JANGAN MAINKAN SEMUA PERAN

Kita tidak pernah tahu, anak kita akan terlempar ke bagian bumi yang mana nanti, maka izinkanlah dia belajar menyelesaikan masalahnya sendiri . Jangan memainkan semua peran, ya jadi ibu, ya jadi koki, ya jadi tukang cuci. ya jadi ayah, ya jadi supir, ya jadi tukang ledeng, Anda bukan anggota tim SAR! Anak anda tidak dalam keadaan bahaya. Tidak ada sinyal S.O.S! Jangan selalu memaksa untuk membantu dan memperbaiki semuanya. Anak mengeluh karena mainan puzzlenya tidak bisa nyambung menjadi satu, "Sini...Ayah bantu!". Tutup botol minum sedikit susah dibuka, "Sini...Mama saja". Tali sepatu sulit diikat, "Sini...Ayah ikatkan". Kecipratan sedikit minyak "Sudah sini, Mama aja yang masak". Kapan anaknya bisa? Kalau bala bantuan muncul tanpa adanya bencana, Apa yang terjadi ketika bencana benar-benar datang? Berikan anak-anak kesempatan untuk menemukan solusi mereka sendiri. Kemampuan menangani stress, Menyelesaikan masala...

MENDETEKSI POTENSI KECERDASAN ANAK MELALUI RAPOR SEKOLAH

-Tips bagi orang tua cara membaca Raport sekolah- Pertengahan bulan Desember adalah penerimaan raport buat para putra-putri  kita. Saya ikut bahagia di hari yang penuh ceria ini, dan izinkan saya berbagi tips buat Bapak/Ibu semua. Tips berikut barangkali memiliki sudut pandang yang mungkin berbeda. Namun jika perspektifnya sama, اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ Alhamdulillah. Yang utama semoga  bermanfaat untuk kita semua. Raport adalah *Progress Report Pembelajaran* laporan perkembangan ananda selama satu semester dalam menempuh  seperangkat materi pelajaran dan *BUKAN hasil akhir* Oleh karenanya saat menerima raport  lakukan hal-hal  berikut : 1.  *Tutup raport* terlebih dulu !. Tanyakan kepad ananda Pelajaran apa yang ia sukai dan siapakah guru yang ia sukai. Ini akan berpengaruh terhadap nilai di dalam raport. Belajar adalah hasil kerja mental emosional (EQ) yg kemudian mengarahkan kemampuan kognitif nya (IQ) untuk meresponnya un...